10 Kesalahan Umum Saat Editing (dan bagaimana menghindarinya)

10edit

Photoshop dan program editor foto lainnya diciptakan untuk membantu fotografer mendapatkan kemudahan dalam mengolah foto-foto yang mereka hasilkan. Tapi program editor foto juga, bisa jadi, malah merusak apa yang seharusnya sudah bagus akibat editing yang berlebih atau samasekali salah. Sama seperti peralatan penunjang fotografi lainnya: editor foto harus dipelajari dan dipahami untuk bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Kenyataan lain yang perlu dicatat adalah bahwa: editor bukan penyelamat foto yang pada dasarnya tidak bisa dipakai. Semacam foto yang overexposed dan kehilangan detil dalam cahaya, komposisi yang berantakan, dan semacamnya. Sekarang kita akan lihat 15 kesalahan paling umum yang sering dilakukan oleh pemula supaya kamu bisa menghindarinya sebelum melakukan, atau tidak mengulanginya jika sudah pernah.

1. Cropping berlebih

Program editor menyediakan grid dan ukuran dalam crop tool tentunya sebagai panduan. Ingatlah bahwa saat kamu memotong foto, akan ada informasi dan pixel yang terbuang. Perhatikan rasio foto, jumlah pixel pada tiap inchi, dan kalau kamu meng-crop portrait – jangan memotong di bagian yang canggung seperti lengan, pergelangan tangan, leher, dan semacamnya. Juga, jangan save hasil croppingan kamu dengan nama file asli. Selalu jaga file aslinya.

2. Warna yang berlebih

Warna yang terang memang bagus, tapi kalau kamu menaikkannya terlalu tinggi sampai tampak seperti warna neon, kamu harus mundur sedikit. Perhatikan detil, kalau hilang dalam warna, berarti kamu terlalu banyak mengedit.

3. Hitam & Putih yang kusam

Mengkonversi foto berwarna ke format hitam dan putih sudah umum dilakukan. Tapi, kamu harus tahu bagaimana melakukannya dengan benar. Sebelum memindahkannya, perbaiki dulu foto berwarnanya. Selain itu, saat kamu menggunakan channel mixer, perhatikan filter apa yang digunakan. Memindahkan foto berwarna yang exposure-nya tidak pas menjadi hitam dan putih belum tentu akan memperbaiki penampilannya.

4. Touch-up kulit yang berlebih

Semua tentu ingin kulit mulus dalam foto. Tapi bukan berarti tampak seperti plastik atau topeng. Jadi, ini adalah salah satu teknik editing dimana perubahan yang lembut lebih baik daripada yang drastis tapi kelihatan palsu. Kamu bisa coba dua saran touch-up kulit yang ada di fotonela.

5. Selective coloring yang tidak pas

Ini adalah trend yang kemudian cenderung menjadi klise karena banyak sekali orang yang menerapkannya dalam foto mereka. Teknik ini sebenarnya menarik dan masih enak dilihat. Tapi kalau digunakan secara tidak pas, hasilnya malah akan jadi aneh. Misalnya bila model menggunakan contact lens berwarna, seluruh bagian foto dibuat hitam putih kecuali bagian mata yang berwarna. Akhirnya foto jadi tampak canggung. Kenali bagian mana yang cocok untuk dipertahankan warnanya, dan pilih warna yang pas. Bibir, pita, detil pada aksesori bisa dijadikan bagian yang dipilih. Hindari selective coloring pada foto bayi atau anak-anak.

6. Blur yang berlebih

Ini adalah teknik yang mengganggu bila dilihat. Objek benar-benar jelas, sementara sekelilingnya blur secara tidak wajar. Lens blur hasil buatan lensa yang sebenarnya tentu akan tampak lebih luwes bila dibandingkan dengan yang dibuat oleh editor. Akan ada depth of field, akan ada tiga daerah dimana blur meningkat secara bertahap dan logis. Kalau kamu berniat menambahkan ini pada fotomu, pahami lens blur yang asli dan pelajari bagaimana membuatnya agar tampak natural.

7. Selection yang tidak rapi

Kamu butuh keahlian dan banyak latihan untuk menguasai teknik ini. Paling tidak nyaman melihat objek yang dicrop menggunakan selection tool (apakah itu lasso, pen, magic wand) yang tidak rapi sehingga ketika dipindahkan ke background yang baru, croppingnya tampak kaku dan jelas. Untuk menghindari ini, perbesar foto, pilih pinggiran pixel dengan hati-hati, gunakan mask, pelajari bagaimana caranya. Jangan terburu-buru atau pilih yang instan tapi hasilnya buruk.

8. Sharpening yang berlebih

Sama saja dengan blur yang terlalu banyak, sharpening yang kelewat batas akan membuat foto tampak kasar dan palsu. Seperti diterangi cahaya yang benar-benar tajam sehingga detil muncul dengan tidak nyaman dan aneh. Lakukan dengan lembut saja, satu atau dua langkah Sharpen sudah cukup kalau kamu hanya ingin mengurangi efek anti-aliasing yang dimunculkan kamera.

9. Vignette yang terlalu tebal

Banyak orang suka vignette. Artistik, memberi kesan retro, dan sebagainya. Tapi ada kalanya foto tidak perlu menggunakan vignette, atau kalaupun perlu mungkin hanya tipis-tipis saja dan tidak dalam warna hitam. Kenali dulu karakter fotomu, warnanya, komposisinya. Lalu belajarlah membuat vignette tanpa tergantung pada lens correction sehingga kamu bisa menerapkan pinggiran yang lebih fleksibel dan cocok untuk fotomu.

10. Less is more

Secara umum, editing yang sederhana sudah cukup untuk memperbaiki foto. Kecuali kamu memang menggunakan Photoshop atau editor lain untuk keperluan manipulasi yang sebenarnya, maka terapkan editing yang halus saja. Kamu pasti tahu foto yang palsu kalau kamu melihatnya. Jadi, jangan lakukan itu pada fotomu sendiri.

 

Saya rasa hanya segitu yang saya tahu, yang ingin menambahkan boleh tulis dikomentar hehe🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s